Selasa, 10 April 2012
Sabtu, 03 Maret 2012
HARGAI SUARA MEREKA WALAUPUN DENGAN KATA MAAF DAN ALASAN KEMASHLAHATAN
HARGAI SUARA MEREKA WALAUPUN
DENGAN KATA MAAF DAN ALASAN KEMASHLAHATAN
Kebersamaan
itu hadir ketika senyum itu sama-sama terlahir ketika melihat sesuatu yang
indah, cemberut itu terlahir ketika sama2 melihat sesuatu yang aneh, kesedihan
itu terlahir ketika sama sama menyaksikan kedukaan.
Kebersamaan
itu sangat indah ketika sama sama kita menggambar suasana yang menarik dan
berbuah kebanggaan, lain halnya ketika berbuat sendiri dan berhasil sendiri,
namun keberhasilan bersama itu sangatlah indah tersakan, namun sayangnya bila
ada diantara kita yang merengut tak bahagia dan juga tak sejalur dengan kita,
ini yang selalu menjadi problematika dalam solidaritas sehingga tak ada yang
bisa menjawab untuk suatu keputusan.
Apalah
arti sebuah keegoisan bila semua orang tak mendengar, tak menghiraukan, tak
juga bersimpati, tanam saja dalam dalam apa yang menjadi ambisi pribadi agar
semua merasa nyaman dengan sebuah keputusan, semua punya hak namun forum
solidaritas hanya bisa mengambil keputusan dari suara terbanyak dan
mempertimbangkan suara suara yang bersifat pribadi, ketegasan yang harus
didalami oleh pemimpin sebuah forum solidaritas adalah harus mampu mengabaikan
suara suara yang bersifat pribadi seperti itu, dan juga harus mampu menyatukan
hak mereka yang merasa suaranya terabaikan dengan menyarankan ke forum
keputusan keputusan yang bersifat menengah agar semua suara merasa beruntung
dan teradili.
Pemimpin
forum juga harus menguasai emosional diri sendiri dan juga suara forum yang
meninggi, karena suara yang bersifat emosional itu bisa berakibat pemecahan
apabila pemimpin forum tidak bisa meredamnya secara cepat dan tak menyinggung
perasaannya, dan juga memberi keluesan pemikiran yang bersifat intelektual dan
bisa dicerna oleh mereka, dan jangan lupa dengan kata kata maaf dalam
memisahkan suara suara yang tak diterima forum agar tak berkesan di abaikan
begitu aja,
Banyak
kita dapati di forum bahwa suara-suara yang tak diterima langsung di langkahi
dan tak di tanggapi serta dilanjuti dengan pembicaraan suara lainnya, ini akan
berakibat fatal dalam solidaritas dan sama aja membuat pemecahan secara tidak
langsung yang sangat berbahaya, menjadi pembicaraan yang tidak enak diluar
forum sehingga forum tercemar nama baiknya, benar bila waktu dijadikan sebuah
alasan untuk itu, namun hati mereka tak ada alasan untuk tidak kecewa akan
sikap yang seperti itu.
Oleh
karena beraneka ragamnya hal-hal yang dapat menjadikan pemecahan solidaritas
tersebut saran penulis dalam artikel ini adalah bersikap baik kepada semua
orang walaupun sebodoh apapun suara yang dikeluarkan tapi sedikitnya hargailah
dengan kata maaf, dan memberi alasan yang tepat agar mereka yang bersuara tak
merasa kecewa dengan apa yang telah mereka keluarkan, dan sebagai pemimpin di suatu
forum manapun itu, memihak adalah hal yang terburuk untuk solidaritas maka
siikapi semua suara mereka dengan kepandaian dan ilmu yang anda miliki agar tak
ada yang terabaikan dan mereka senang bersatu walaupun suaranya tak didengar
tapi mereka telah memiliki anda yang bisa memahami mereka dan tidak mengabaikan
mereka, dan mereka memercayai anda akan membawa mereka ke jalan yang meutuah
dan Adil.
Wassalam
sumber : http://alhayyaq-safar.blogspot.com/
Minggu, 19 Februari 2012
KETIKA JIWAMU KALUT

KETIKA JIWAMU KALUT
Kebahagiaan tak
bisa dirasa
Kesedihan tak bisa
dilukis
Keresahan tak
terungkap
Kegalauan tak terfikir
Kegundahan tak
terukir
Ketakutan tak
ber-ngeri
Kesenduan tak terjamah
Lantas.. apa yang sedang
terjadi ketika kekosongan sudah tak butuh lagi dengan ruang?
Bila pahit dan getir
sedang terasa
Meski tak menetes
bau amis darah bisa tercium
Hingga ratusan bunga
bangkai dirasa menjadi permaisuri
Kita lihat kumel dan
pucatnya batu itu, yang selalu berdoa semoga bisa menjadi emas
Dan bukit yang sedang
cemburu dengan dataran bumi
Juga laut yang menatap
iri dengan luas sabana
Semuanya hanyalah
muntahan dari ketololan sebuah ambisi
Sampai-sampai bintang
tsuroyya pun ingin di beli
Coba lihat manusia itu…
Emosi tertahan
Hingga nafsu pun bungkam
Dan berhasil dijinakkan
“apa yang harus
dilakukan…?”
Sementara hati kian lama
menyanyikan riuh tangis yang tak pernah terdengar
Benang yang kusut mungkin
masih bisa di urai
Tapi, ketika hati yang
kalut siapa yang bisa melerai…?
“Biarkan Tuhan dengan
caraNya sendiri yang memutuskan,
Tidak usah kita ganggu dengan
aneka macam ide-ide gila dan sok tahu yang diucap dalam do’a harian…”
Senin, 30 Januari 2012
Lihatlah Susunan Batu yang Dijatuhi Daunan Kering itu!!!!!
LIHATLAH SUSUNAN
BATU DENGAN HIASAN DAUN ITU!!!
![]() |
| Hidayat M. Hasan K. Syam |
Sangat indah bila
dipandang, daun-daun kering berjatuhan menjadi hiasan susunannya mempesona
seakan-akan iya sangat indah dan berarti. Mencoba kita telusuri hal nyata dan
logika pada susunan batu itu, apa yang kita harap dari susunan batu yang indah
dengan daun-daunan kering menghiasinya padahal semuanya tidaklah berarti bila
dilogikan secara duniawi.
Batu
kerikil? Untuk apa itu bila kita sedang berjalan di atasnya, mungkinkah iya
berharga dan bisa memberi kita manfaat keberadaannya, atau membuat bangunan
dengan sedikit jumlahnya, saya rasa tidak mungkin dan mustahil. Begitu juga
daun-daunan kering yang menghiasinya dan berwarna kuning membuat yang memandangnya
melayang-melayang memikirkan hal indah pesonanya yang membuat yang memandangnya
akan mengabadikannya menjadi sebuah pandangan indah baik dengan kamera Hand
Phone atau digital yang sedang iya bawa. Padahal daun kering itu adalah sesuatu
benda yang telah mati dari kehidupan hakekatnya yaitu dari pohon dan gugur
ditiup angin dan layaknya adalah sampah ketika iya menyebar luas kehalaman
rumah atau ruko yang kita singgahi.
Sebagai
resapan tentang keindahan susunan batu yang dihiasi daun-daun kering itu maka
cobalah kita memikirkan persamaan dengan kehidupan ini yang begitu susahnya
atau begitu rumitnya bahkan tak ada sedikitpun peluang untuk kita bisa bahagia
maka akan muncul pikiran bagi kita indahnya susunan batu itu dengan daun-daun
kering yang menghiasinya itu adalah keindahan bagi mata kita yang akan fana,
foto yang diabadikan atau rasa senang dengan keindahannya akan hilang begitu
saja sampai-sampai tak ada waktu untuk kita memikirkannya lagi.
Penulis
mengambil intisari dari apa yang penulis paparkan yaitu penulis berusaha untuk
menjelaskan bagaimana kehidupan dunia ini yang sementara dan akan berakhir pada
saatnya, kita telah dilalaikan dengan hal-hal indah yang ada di dunia ini tanpa
memikirkan suatu hari akan ada yang namanya hari pembalasan, yang membuat
orang-orang yang lalai akan menyesal telah terlalai dengan tipu daya keindahan
dunia yang akan fana ini seakan-akan iya akan hidup selamanya di dunia ini maka
sungguh rugilah bagi mereka yang lalai.
Dunia yang telah
tua ini terus saja dihiasi oleh manusia yang tak mengetahui padhal sebentar
lagi dunia ini akan berakhir sesuai janji, dan Allah SWT juga telah
memperingati orang-orang yang lalai akan duniawi dalam dalam firmannya:
(#þqßJn=ôã$#
$yJ¯Rr&
äo4quysø9$#
$u÷R9$#
Ò=Ïès9
×qølm;ur
×puZÎur
7äz$xÿs?ur
öNä3oY÷t/
ÖèO%s3s?ur
Îû
ÉAºuqøBF{$#
Ï»s9÷rF{$#ur
( È@sVyJx.
B]øxî
|=yfôãr&
u$¤ÿä3ø9$#
¼çmè?$t7tR
§NèO
ßkÍku
çm1utIsù
#vxÿóÁãB
§NèO
ãbqä3t
$VJ»sÜãm
( Îûur
ÍotÅzFy$#
Ò>#xtã
ÓÏx©
×otÏÿøótBur
z`ÏiB
«!$#
×bºuqôÊÍur
4 $tBur
äo4quysø9$#
!$u÷R$!$#
wÎ)
፯tFtB
Írãäóø9$#
ÇËÉÈ
Artinya
:
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan
dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-
megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak,
seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman
itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan
di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.
Minggu, 29 Januari 2012
TAHAJUD Sepertiga Malam_Ku
![]() |
| Hidayat M.hasan K.Syam |
Alhayyaq Ciicyubaturii |
Kutuai siang disepertiga malam
aku lamunkan semua peristiwa menjadi dramatis kehidupan
tak ada yang mampu mencari hati ini
meski menerawangnya sampai kebalik langit yang hitam
kugagahkan semangat untukmu
agar di alam itu aku menerimanya dengan kanan yang baik
perlu dipahami segala isi bumi ini hanya iklan semata
melalaikan jiwa, melupakan hati, mengubah taqwa pada_Nya
keinginan semu ini tak akan pernah kupungkiri
demi mendapatkan cita-cita sejati yang kekal abadi
kuukirkan dilema didaun yang kering itu
agar terbang sembarang dilalui angin-angin kehidupan
agar hilang tak kupeduli.
setelah dihembus ruh ini
aku telah berjanji dan tak akan kulupa hingga aku kembali kepada_Nya
kutuai pagi hingga siang hari di bawah mentari
yang takkan percuma panasnya membakar kulit ini
dibandingkan dengan apa yang dibalas nanti
aku lafaskan setiap hari
kutumpukan semua pada waktu yang lima itu
dengan mengucapkan nama_Nya setiap kerja yang kuperbuat
semata hanya untuk menyambung nyawa ini agar tak terabaikan
agar diri_Nya tidak benci padaku bila mengabaikan karuniaNya
rezekiNya, nafasNya, RagaNya yang aku telah diciptakan
aku mohon hanya padaNya tunjukilah aku setiap apa yang menjadi keraguan
setiap apa yang aku bimbangkan,
hanya padaNya aku berlutut karena aku percaya tak ada ciptaanNya
yang mampu dan sanggup atas segalanya,
By : Alhayyaq Ciicyubaturii (Hidayat M. hasan K. Syam)
desa Lam Bheu, kecamatan Darul Imarah, kabupaten Aceh Besar
mahasiswa Fakutas Syari'ah, Jinayah Wa Siyasah IAIN-Ar-Raniry
Kamis, 19 Januari 2012
Segeralah Melakukan Amal Salih
Abu Hurairah r.a. bekata: Bersabda Nabi SAW: “Segeralah melakukan amal
salih, sebab akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat
gulita. Ketika itu seorang pada pagi hari mu’min, tiba=tiba pada sore
hari berbalik kafir, menukar agama karena sedikit keuntungan dunia yang
sederhana. (Muslim)
Selintas, hadits ini tidak banyak memberikan pelajaran kepada kita. Seolah-olah tidak ada korelasi positif antara melakukan amal salih dengan tiba-tiba berubahnya orang mu’min menjadi kafir. Tetapi, apabila kita mau merenungkannya sejenak, kemudian kita kaitkan dengan fenomena kehidupan yang terjadi di sekeliling kita, ternyata hadits ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita dan keluarga.
Sebelumnya, mari kita pahami terlebih dahulu tentang pengertian amal salih. Tetapi pengertian amal salih disini bukan bersifat final. Siapapun boleh memberikan kritisi, sekrianya pengertian amal salih ini, menurutnya, keliru atau kurang sempurna. Amal salih adalah perbuatan sunah yang kita lakukan setelah kita memenuhi kewajiban kita kepada Allah yang berupa sholat fardhlu (sembahyang wajib) atau kewajiban yang lain ketika kewajiban itu sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengerjakannya, misalnya puasa romadhan atau mengeluarkan zakat fitrah. Dengan pengertian ini, tentu timbul pertanyaan dalam hati kita. Bagaimanakah keabsahan amalan sunah yang kita lakukan, padahal kita belum atau bahkan tidak mengerjakan amalan yang wajib. Misalnya mengerjakan sholat dhuha’ padahal tidak mengerjakan sholat subuh. Atau mengerjakan sholat tarawih padahal tidak puasa. Atau berinfaq padahal tidak membayar zakat fitrah. Untuk lebih amannya saya mengatakan subhat/samar tentang keabsahan amalan semacam ini. Karena yang berhak menentukan sah atau tidaknya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang-orang Mu’min yang Wira’i (berhati-hati) tentu mereka menganggap bahwa amalan ini tidak sah untuk dirinya sendiri.
Berikutnya mari kita telaah tentang kalimat orang mu’min yang menjadi kafir dengan tiba-tiba. Terhadap orang yang sudah jelas kekafirannya, tentu kita sudah menaruh kewaspadaan penuh. Jauh-jauh kita sudah tidak memberikan kepercayaan tentang apapun terhadapnya. Tetapi terhadap orang mu’min, mungkinkah kita memperlakukannya seperti itu. Rasa-rasanya tidaklah patut bagi kita memperlakukan orang mu’min sebagaimana kita memperlakukan orang kafir. Terhadap orang mu’min tentu kita sudah menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Tidak perlu ada rasa curiga dan ragu lagi. Bahaya baru akan terjadi ketika orang mu’min tersebut tiba-tiba berubah menjadi kafir. Padahal saat itu tentu kita sedang tidak menaruh kercurigaan apapun terhadapnya. Saat itu pun kita sedang tidak mempunyai kekhawatiran akan terjadinya bahaya yang ditimbulkannya. Sering kita lihat di layar kaca atau kita baca di media cetak, bahwa kebanyakan pelaku kejahatan terhadap anak-anak adalah orang yang dekat dengan kita. Pelaku kejahatan terhadap anak-anak adalah orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Agar peristiwa-peristiwa menyedihkan dan memilukan itu tidak menimpa keluarga kita, maka disini amal salih kita yang sangat berperan. Karena ketika kita sudah melakukan amal salih, maka Allah SWT akan selalu menyertai, menolong dan menghindarkan kita dari peristiwa-peristiwa menyedihkan yang tidak pernah kita duga bakal menimpa keluarga kita.
Wahai anakku, janganlah engkau menunda-nunda lagi untuk mengerjakan amal salih. Musibah dan bencana selalu siap menimpa kita, dimanapun kita berada. Musibah dan bencana bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Hanya dengan amal salih saja kita bisa selamat dari ancaman musibah dan bencana itu, amien…….
Selintas, hadits ini tidak banyak memberikan pelajaran kepada kita. Seolah-olah tidak ada korelasi positif antara melakukan amal salih dengan tiba-tiba berubahnya orang mu’min menjadi kafir. Tetapi, apabila kita mau merenungkannya sejenak, kemudian kita kaitkan dengan fenomena kehidupan yang terjadi di sekeliling kita, ternyata hadits ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita dan keluarga.
Sebelumnya, mari kita pahami terlebih dahulu tentang pengertian amal salih. Tetapi pengertian amal salih disini bukan bersifat final. Siapapun boleh memberikan kritisi, sekrianya pengertian amal salih ini, menurutnya, keliru atau kurang sempurna. Amal salih adalah perbuatan sunah yang kita lakukan setelah kita memenuhi kewajiban kita kepada Allah yang berupa sholat fardhlu (sembahyang wajib) atau kewajiban yang lain ketika kewajiban itu sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengerjakannya, misalnya puasa romadhan atau mengeluarkan zakat fitrah. Dengan pengertian ini, tentu timbul pertanyaan dalam hati kita. Bagaimanakah keabsahan amalan sunah yang kita lakukan, padahal kita belum atau bahkan tidak mengerjakan amalan yang wajib. Misalnya mengerjakan sholat dhuha’ padahal tidak mengerjakan sholat subuh. Atau mengerjakan sholat tarawih padahal tidak puasa. Atau berinfaq padahal tidak membayar zakat fitrah. Untuk lebih amannya saya mengatakan subhat/samar tentang keabsahan amalan semacam ini. Karena yang berhak menentukan sah atau tidaknya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang-orang Mu’min yang Wira’i (berhati-hati) tentu mereka menganggap bahwa amalan ini tidak sah untuk dirinya sendiri.
Berikutnya mari kita telaah tentang kalimat orang mu’min yang menjadi kafir dengan tiba-tiba. Terhadap orang yang sudah jelas kekafirannya, tentu kita sudah menaruh kewaspadaan penuh. Jauh-jauh kita sudah tidak memberikan kepercayaan tentang apapun terhadapnya. Tetapi terhadap orang mu’min, mungkinkah kita memperlakukannya seperti itu. Rasa-rasanya tidaklah patut bagi kita memperlakukan orang mu’min sebagaimana kita memperlakukan orang kafir. Terhadap orang mu’min tentu kita sudah menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Tidak perlu ada rasa curiga dan ragu lagi. Bahaya baru akan terjadi ketika orang mu’min tersebut tiba-tiba berubah menjadi kafir. Padahal saat itu tentu kita sedang tidak menaruh kercurigaan apapun terhadapnya. Saat itu pun kita sedang tidak mempunyai kekhawatiran akan terjadinya bahaya yang ditimbulkannya. Sering kita lihat di layar kaca atau kita baca di media cetak, bahwa kebanyakan pelaku kejahatan terhadap anak-anak adalah orang yang dekat dengan kita. Pelaku kejahatan terhadap anak-anak adalah orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Agar peristiwa-peristiwa menyedihkan dan memilukan itu tidak menimpa keluarga kita, maka disini amal salih kita yang sangat berperan. Karena ketika kita sudah melakukan amal salih, maka Allah SWT akan selalu menyertai, menolong dan menghindarkan kita dari peristiwa-peristiwa menyedihkan yang tidak pernah kita duga bakal menimpa keluarga kita.
Wahai anakku, janganlah engkau menunda-nunda lagi untuk mengerjakan amal salih. Musibah dan bencana selalu siap menimpa kita, dimanapun kita berada. Musibah dan bencana bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Hanya dengan amal salih saja kita bisa selamat dari ancaman musibah dan bencana itu, amien…….
Birrul Walidain Lebih Baik Daripada Jihad Fisabilillah.
![]() |
| Hidayat M. Hasan K. Syam |
Birrul Walidain Lebih Baik
Daripada Jihad Fisabilillah
Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amalan apakah yang paling disukai oleh Allah SWT, Beliau menjawab: “Sholat pada waktunya.” Kemudian apa lagi yaa Rasulullah?, Beliau menjawab: “Birrul walidain.” Kemudian apalagi yaa Rasulullah?, Beliau menjawab: “Jihad fisabilillah.”
Kalau kita mau memperhatikan hadits ini dengan cermat, maka kita
dapat mengambil kesimpulan bahwa amalan yang paling disukai oleh Allah
yang pertama adalah sholat pada waktunya, kemudian berbuat baik kepada
kedua orangtua, baru kemudian yang terakhir adalah jihad fisabilillah.
Oleh karena Birrul Walidain itu lebih baik daripada Jihad
fisabilillah, sudah barang tentu pahalanya juga lebih baik. Untuk itu,
di bawah ini, saya sajikan dua buah hikayat. Hikayat yang pertama
berkisah tentang pahala Jihad fisabilillah dan hikayat yang kedua
berkisah tentang pahala Birrul Walidain. Dengan menyajikan dua hikayat
ini, diharapkan para pengunjung Blog saya ini bisa memperolah gambaran
yang jelas tentang keduanya.
Hikayat 1 tentang pahala Jihad fisabilillah:
Al
Yafi’i pernah bercerita dari Syech Abdul Wahid bin Zaid. Pada suatu
hari kami duduk di majlis kami sebagaimana biasanya, kami telah bersiap
untuk pergi berperang. Sungguh aku telah memberikan perintah kepada
sahabat-sahabat untuk mendengarkan suatu ayat yang akan dibacakan di
muka mereka. Ada seorang lelaki yang membacakan ayat di majlis kami.
“Sesungguhnya Allah telah membeli orang-orang mu’min diri dan harta
benda mereka, sebab sesungguhnya mereka akan memeroleh surga.”
Lantas
ada seorang anak yang masih berusia limabelas tahun atau sederajatnya
berdiri, padahal ayahnya sudah meninggal dunia, namun ditinggali harta
benda yang banyak, lalu berkata: “Wahai Abdul Wahid bin Zaid,
sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta benda orang-orang
mu’min, sebab sesungguhnya mereka akan memeroleh surga?” Aku berkata:
“Ya wahai anakku yang tercinta.” Dia berkata kepadaku: “Aku telah
menyaksikan kepadamu bahwa aku telah menjual diriku dan harta bendaku
kepada Allah agar aku memeroleh surga.” Aku (Abdul Wahid) berkata:
“Sesungguhnya tikaman pedang yang tajam lebih berat daripada itu, sedang
kulihat kamu masih kecil. Sesungguhnya aku khawatir bila kamu nanti
tidak sabar dan kamu tidak mampu menghadapi resiko peperangan.” Dia
berkata: “ Wahai Abdul Wahid, aku sudah baiat kepada Allah agar aku
mendapatkan surgaNya lantas aku tidak mampu? Aku menyaksikan kepada
Allah baiatku ini.”
Abdul
Wahid berkata: “Sesungguhnya kami merasa terkalahkan dengan keimanan
yang dimiliki oleh anak semacam ini, lantas kami berkata di dalam hati:
“Seorang anak berakal sedang kami masih kurang berakal.” Anak tersebut
keluar dengan membawa seluruh harta bendanya untuk disumbangkan dalam
perjuangan kecuali kuda, senjata dan bekalnya belaka.
Ketika
hari yang dijanjikan untuk berangkat perang telah tiba, maka anak itu
permulaan orang yang tampak pada kami, lalu berkata: “Assalamu alaikum
wahai Abdul Wahid,” lalu aku menjawab salamnya dan kukatakan: “Sungguh
akad jual belimu telah beruntung banyak.” Kemudian kami berjalan menuju
medan tempur, sungguhpun demikian ternyata anak itu berpuasa di waktu
siang dan malampun melakukan shalat. Dengan hati yang gembira dia
melayani kami, memelihara binatang kami dan menjaga kami bila kami
tertidur. Lantas sampailah perjalanan kami ke tanah Romawi.
Ketika
kami sudah sampai di tanah Romawi, lantas pemuda itu menghadap kepada
kami seraya berkata: “Sungguh rinduku telah lama mencekam kepada Al Aina
Al Mardhiyah.” Lantas beberapa temanku berkata: “Barangkali pemuda itu
tergoda oleh setan atau kemasukan jin atau mungkin akalnya sudah tidak
sadar lagi.” Aku berkata: “Wahai anakku yang tercinta, apakah maksud Al
Aina Al Mardhiyah itu?” Dia menjawab: Sesungguhnya aku pernah tidak
sadar, lantas aku melihat seolah-olah ada orang datang kepadaku, lalu
berkata kepadaku: “Pergilah kamu untuk menjumpai Al Aina Al Mardhiyah,
lantas aku diajak berkunjung ke pertamanan yang terdapat sungai yang
airnya tidak berubah. Kulihat di tepi sungai itu ada beberapa perempuan
yang mengenakan pakaian dan perhiasan yang menarik, sungguh aku sulit
melukiskan kecantikan dan daya tarik perhiasan dan pakaiannya.
Ketika
mereka melihat aku, langsung mereka berkata: “Ini suami Al Aina Al
Mardhiyah, lalu aku berkata: “assalamu alaikum, apakah ada di kalangan
kamu Al Ana Al Mardhiyah?” Lalu mereka menjawab: “Kami hanya sebagai
pelayannya, oleh karena itu berjalanlah terus kesana.”
Akupun
berjalan menelusuri lorong-lorong di mukaku, lalu aku berjumpa dengan
sungai dari susu yang putih bersih, rasanya pun tidak berubah. Di sana
terdapat pertamanan yang penuh dengan dekorasi yang memikat hati dan
beberapa wanita yang cantik. Ketika aku melihat mereka, akupun tertarik
lantaran kecantikannya sulit kulukiskan. Ketika mereka melihat kepadaku,
langsung mereka menyambutku dengan hati yang gembira, mereka berkata: “
Inilah suami Al Aina Al Mardhiyah.” Aku mengucapkan salam kepada mereka
dan bertanya: Apakah diantara kamu ada Al Aina Al
Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku, dan memanggilku dengan kata wahai
waliyullah, kami hanya sebagai pembantunya, oleh karena itu berjalanlah
terus ke depan. Lantas akupun berjalan ke depan, tahu-tahu aku berjumpa
dengan sungai dari khomer dan di tepinya ada beberapa wanita yang
menarik.
Dengan daya pikat masing-masing wanita
itu, akupun lupa terhadap wanita yang sebelumnya. Akupun mengucapkan
salam untk mereka, aku bertanya:
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)




